Everything in Between

April 8, 2019 10:58 am
15%

Rp99,000 Rp84,150

Penulis : Marlies Fennema, Diego Yanuar
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 9786022915751
Terbit : 8 April 2019
Ketebalan : 212 halaman
Ukuran : 130 x 205 mm
Sampul : Soft cover

Sinopsis
Dear diary,

Tidak ada lagi jalan untuk kembali.

Akankah ada beruang di dalam tenda kami? Akankah kami merindukan Ben dan Jer setiap hari? Akankah kami jatuh sakit di negeri yang tidak kami kenal? Akankah ada momen yang memaksa saya untuk menggunakan pepper spray? Akankah kami melihat unta di Turkmenistan? Akankah kami menemukan air di pegunungan Pamir? Akankah turun salju? Akankah ada hari yang saya sesali?

Akankah pundak saya cukup kuat untuk memikul seluruh pengalaman dan pelajaran yang saya temui?

Ya Tuhan, biarkan kami bertualang, merasa kagum, biarkan hati kami terpecah belah sehingga kami dapat belajar arti menghargai yang sesungguhnya. Ya Tuhan, kuatkanlah keyakinan akan harapan dan mimpi kami, jadikanlah nyata. Biarkan kami menemukan kepercayaan di tengah keasingan dan ketidaktahuan yang jauh dari rasa nyaman. Ya Tuhan, tuntunlah kami pulang dengan aman.

Dear diary, dalam setiap putaran pedal yang kami kayuh dari Belanda menuju Indonesia, saya akan berbagi kepadamu segala sesuatu yang ada di antaranya.

Saya berjanji,

Marlies

TENTANG PENULIS

Marlies, seorang warga Belanda, merupakan guru bahasa dan copywriter lepas. Sedangkan Diego adalah seorang warga Indonesia yang amat sangat mencintai alam, fotografi, lari maraton, dan bersepeda.

Pasangan ini memutuskan untuk menempuh jarak sejauh 12.000 km dari Nijmengen (Belanda) ke Jakarta (Indonesia) dengan bersepeda demi misi mereka: mengumpulkan donasi sebanyak �15.000 dalam satu tahun. Adapun aksi ini mereka dedikasikan kepada manusia, hewan, dan tumbuhan.

Perjalanan yang mereka namai Eveything in Between ini mereka mulai sejak awal April 2018 dari Belanda, dan hingga saat buku ini ditulis mereka baru saja tiba di  Jakarta pada akhir Februari 2019. Dari perjalanan ini mereka berharap akan ada pendewasaan diri yang lebih baik. Mereka merasa, kebanyakan manusia di bumi ini hidup dalam tempo serba cepat. We think too much, but less feeling. Dengan perjalanan ini, mereka ingin terus belajar menyayangi sesama, bukan hanya sesama manusia, tapi dengan hewan dan juga tumbuhan. Sebuah pelajaran yang menyertai langkah mereka kini dan selamanya. Even though, some say that the world is not gonna get any better, but to postpone it for something good isn�t so bad.

Mari menyapa mereka melalui:
Instagram: @everythinginbetween.journal