Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad SAW

Agustus 10, 2019 10:07 am
15%

Rp85,000 Rp72,250

Penulis : Prof. Dr. Husain Mu’nis
Penerbit : Liman
ISBN : 978-602-8648-30-1
Terbit : 12 Agustus 2019
Ketebalan : 294 halaman
Ukuran : 13,5 X 20 cm
Sampul : Soft cover

Sinopsis
Dalam Risalah Islam tidak ada konsep pendirian kerajaan Islam ataupun kekhalifahan, namun pendirian
sistem sosial-politik baru yang didasarkan atas persaudaraan, interaksi, dan empati yang menjauhkan
hegemoni manusia satu atas lainnya dan otoriterianisme penguasa. Islam tidak menolak kerajaan,
kekhalifahan, keamiran, dan sistem demokrasi. Ini semua hanyalah bentuk formal untuk menata urusan
umat. Umat bisa memilih bentuk pemerintahan yang mereka sukai. Yang penting adalah umat yang merdeka, tegaknya nilai-nilai mulia, berkeadilan, guyub, dan bersatu dalam prinsip dan tujuan seperti yang
digariskan Alquran.
Pemikiran politik Islam dalam buku ini berbeda dengan buku-buku lainnya. Sumber utamanya adalah Sirah
Nabawiyyah terkait strategi, fatsoen politik, dan praktik kehidupan Nabi Saw. dalam membangun ‘umat’ yang
ideal berpijak pada Alquran. Penulis mengkaji Piagam Madinah (Sahīfah al-Madīnah) yang penulis
menyebutnya sebagai Dustūr Ummah al-Madīnah contoh ideal qanūn dalam membangun ‘ummah’ yang
ideal. Buku ini menjelaskan bahwa Nabi Saw. tidak mendirikan negara di Madinah, akan tetapi membangun
umat di mana dalam umat ini dibumikan nilai-nilai Qurani. Nabi membangkitkan nurani kemanusiaan (damīr
insānī) di mana manusia satu bisa memanusiakan manusia yang lain. Politik ala Nabi Saw. sejatinya adalah
upaya menata masyarakat, melandasi masyarakat dengan akhlak mulia, mempersatukan mereka dengan
sikap persaudaraan dan kasih sayang. Politik bukan dalih dan pamrih meraih kekuasaan atau menjadi
pejabat bergelimang harta.
Endorsement:
“Contoh yang paling utama adalah Negeri Madinah yang disumberi dan diayomi, didorong seperti sungai dan
ditarik seperti kereta api, oleh wibawa dan akhlak Rasulullah Muhammad Saw. Wahai anak cucuku di hari
esok, kalau memang harus Kau pakai kata dan istilah Negara, Negeri Madinah itulah Negara Sejati.”
—Emha Ainun Nadjib, Budayawan